Alternatif Arsitektur Puskesmas Online
Beberapa waktu yang lalu saya diajak teman ke Puskesmas Umbulharjo 2 Yogyakarta, yang minta bantuan untuk liatin spesifikasi hardware & software guna mendukung kebutuhan dalam penelitian untuk tugas akhir. Beberapa waktu sebelumnya saya diberi gambaran umum tentang sistem yang ada dan cara sistem bekerja. Sistem tersebut adalah sistem informasi puskesmas online atau lazim disebut simpus online. Dengan simpus online diharapkan 1 pasien dapat berkunjung ke berbagai puskemas di Yogyakarta dengan menggunakan 1 nomor. Tentu selain itu ada berbagai manfaat lain, seperti apabila dinas membutuhkan laporan, maka akan segera didapatkan tanpa perlu memanggil para pembuat laporan pada masing-masing puskesmas.
?
Meskipun sudah ada simpus online, transaksi di puskemas tersebut masih menggunakan sistem manual karena simpus online memiliki banyak kelemahan. Kelemahan yang paling mendasar adalah ‘sistem berjalan lambat’. Mengapa lambat?
?
Simpus online merupakan sebuah web based information system dan diakses melalui jaringan internet. Sistem informasi dipasang pada sebuah server, kemudian masing-masing puskesmas dengan terhubung oleh jaringan internet menggunakan sistem informasi tersebut secara bersama-sama. Pernahkan Anda rasakan kecepatan jaringan internet dengan bandwidth pas-pasan pada jam kantor? itulah yang terjadi. Dan pada akhirnya sistem manual tetap menjadi andalan.
Selain itu juga (beberapa atau semuanya, saya tidak tahu) laporan yang dikirim ke dinas masih menggunakan kendaraan bermotor. Tanya ken-napa?
?
Awalnya, web based information system memang menawarkan solusi yang praktis, sehingga developer tidak perlu repot-repot install aplikasi pada setiap komputer dan maintenance sistem-pun akan lebih mudah. Namun akhirnya juga akan kembali pada kondisi lapangan.
?
Alternatif
Mungkin kita semua percaya, bahwa sistem tersebut diatas adalah alternatif yang terbaik pada waktu sistem dibuat. Tapi, tentu terdapat alternatif lain yang dapat dipertimbangkan bukan?
?
Sistem terdistribusi (distributed system) adalah sistem dimana komponen-komponen pada sebuah sistem informasi didistribusikan ke berbagai lokasi pada sebuah jaringan komputer (Jeffery L, 2004). Terdapat 3 tipe arsitektur sistem terdistribusi, yaitu : File server architecture, Client/ server architecture, dan Internet based architecture. Dan kita sedang berbicara tentang Internet based architecture.
?
Beberapa alternatif yang mungkin untuk menggantikan sistem tersebut diatas diantaranya :
Sistem informasi dipasang secara individual pada masing-masing puskesmas dan masing-masing puskesmas terhubung oleh internet meskipun secara insidensial (pada jam-jam tertentu yang telah disepakati ketika Dinkes akan meminta laporan atau pada kondisi tertentu ketika terjadi KLB, misalnya) sehingga puskesmas tidak membutuhkan jaringan internet ketika mengakses sistem informasi. Pertimbangannya adalah, user yang mempunyai intensitas paling tinggi dalam menggunakan sistem informasi adalah puskesmas itu sendiri sedangkan Dinas Kesehatan hanya membutuhkan laporan saja, itupun tidak setiap detik bukan? Mengingat tidak setiap saat Dinas Kesehatan membutuhkan laporan, maka untuk masalah laporan dapat didapatkan dengan web service, yaitu Dinkes merequest laporan ke sistem informasi masing-masing puskesmas atau sebaliknya. Beberapa waktu yang lalu ngobrol dengan Pak Nur Rokhman, membahas itu, beliau kemudian angkat bicara, klo seperti itu ya…, ngirimnya ke server Dinkes setiap jam 12 malam saja. Nah loh…
?
Alternatif selanjutnya adalah dengan menghubungkan beberapa puskesmas yang berdekatan dengan sebuah jaringan. Pada jaringan itu terdapat sebuah server yang digunakan untuk menaruh Simpus dan sebuah gateway yang terhubung dengan Dinas Kesehatan. Selanjutnya untuk masalah laporan juga menggunakan web service sama seperti alternatif sebelumnya. Sistem ini akan (mungkin) lebih baik daripada alternatif sebelumnya ketika terdapat banyak puskesmas yang telah menggunakan Simpus. Kelebihannya terlihat pada saat Dinas membutuhkan laporan, sehingga Dinas tidak perlu merequest ke masing-masing puskesmas, namun hanya ke masing-masing server yang menghubungkan beberapa puskesmas tersebut.
?
Dari kedua alternatif tersebut terdapat kekurangan (atau bisa disebut tantangan) jika dibandingkan dengan simpus yang ada sekarang, yaitu penggunaan satu nomor rekam medis untuk seluruh puskesmas. Misalnya ada seorang pasien baru (X) yang mendaftar di Puskesmas A pada pukul 8 pagi dan mendapat nomor rekam medis 00-00-08. Satu jam kemudian, X periksa sendiri ke Puskesmas B dengan menunjukkan nomor rekam medis 00-00-08 yang didapat dari Puskesmas A. Kemudian yang jadi pertanyaan, bagaimana puskesmas B mendapatkan data pasien dan data medis pasien X yang (masih) tersimpan di Puskesmas A pada saat itu?
?
Kalau memang dipaksakan, bisa saja kita manfaatkan web service. Tetapi, jika mengingat koneksinya lambat, jadi…, ngga’ jadi aja ah…
?
Beuh, kalau sudah mentok begini, mendingan saya menyangkal dengan pertanyaan yang mendasar (atau bersembunyi dibalik ketidakmampuan), seberapa pentingkah penggunaan nomor rekam medis tunggal??!! Jdeeeng!!!! Ya! Seberapa penting?!!!
?
Penting, ngga’ penting, lihat dulu tujuannya. Salah satu tujuannya adalah “bersatunya riwayat penyakit pasien”. Ok, cerita dulu…
Puskesmas adalah sebuah institusi kesehatan yang terdapat pada masing-masing kecamatan. Bahkan dalam satu kecamatan sangat mungkin memiliki lebih dari satu puskesmas. Puskesmas didirikan agar pelayanan kesehatan menjadi lebih dekat dengan masyarakat. Jadi buat apa seorang pasien yang dekat dengan puskesmas A harus memeriksakan diri ke puskesmas B yang jaraknya lebih jauh? Kurang kerjaan saja. Toh, kalau misalnya puskesmas A merujuk seorang pasien ke puskesmas B, tentu akan membawa lembar resume medis pasien yang sudah cukup mewakili untuk mengetahui riwayat penyakit pasien, toh?
?
Jadi mana yang lebih baik? Itu semua tergantung kondisi lapangan, dengan disertai beberapa pertanyaan :
Seberapa cepat jaringan internetnya?
Berapa jumlah puskesmas yang terhubung?
Perlukah penggunaan nomor rekam medis tunggal?
Dan yang paling menentukan adalah, berapa budgetnya?
Related posts:
klo entry data dilakukan via web (web based) jelas bisa mati bosan operatornya saat menunggu data terkirim dan dia harus ngentri data selanjutnya ^o^
eh sori semalem aku pulang duluan, mas yudo dah ngantuk berat n ane kepala pusing dalam rangka pilek T_T
Ini yang disebut SI terdistribusi ya to? Klo dibuat jadi skripsi, kayanya ok juga nih..
salam kenal..
asik juga baca tulisan njenengan. mengalir … salut.
tentang kontennya masalah simpus onlen .. wah banyak banget mas yang bicara ‘muluk’ gitu, search saja ‘simpus’ atau ‘simkes’. biasanya berbagai konsep bakal nongol
tp berbagai pertanyaan di akhir tulisan tadi emang bakal muncul..
yang jelas, paling asik kalau konsep2 canggih seperti impian2 para dewa di singgasana itu di jadikan proyek hehehe … pasti gede duitnya…dah ada jawaban utk budget.. yg jelas gede …
wassalam ..
Jojok
thanks bnget tlisanx udh bntu aq untk mnegmbngkan jaringan yang da di puskesmas wani (kab donggala, sulteng) ni aq lkkn bt tugas akhir.
hmm…ra nyongko encer jg otak mu dab.. ra sio-sio berguru karo mr.sis n mr.edi..
Konsep ckp bgs. melihat kondisi pusk saat ini kaitannya dg penggunaan IT, dmn msh jrg wong IT ning pusk. komputer oon,monitor byarpet, ditambahi jaringan lemot, wisss…. pasti wong pusk akan ceramah ngalor-ngidul-ngetan-ngulon. “ra nggo simpus ra pate`en”. laporan yo iso digawe. masalah dtnya gobal-gabul yo paling ditrima DKK….
tp apa akan gene terus?? mau dibawa kemana indonesia ini ha?? krn kalo dipikir2 data DKK (pusk/RS/klinik/dll) menyangkut urusan “wong urip karo wong mati”. sukur2 tambah berkualitas.. koyo sampeyan dab! he2
so myb pemanfaatan VPN sbg alternatif penggunaan realtime online simpus bs jadi pertimbangan. Yoo mang rodo larang c. jarene perbulan minimal 30-an jte (telkom). tp yo jo lali security ne..
yo disulke wae to.. duite negoro wae kok..
Tak tunggu tulisanmu maneh Dab!!.
Salam seko cah semarang
@mantanRMugm`01
nek encer kie wis gawan bayi dab.
betul2, kapan yo indo ky ngunu…
semarang?sopo?mas hanif?kumsalam
artikelnya ok juga, tapi lebih ok lagi klo isinya lebih detail, n klo boleh aku boleh liat hasil penelitiannya keseluruhan ga? maksudku laporan yang kamu buat! cos tugasku hampir sama, yah buat tambahan bahan referensi aku.
Thanx…
Setelah membaca tulisan Panjenengan, Saya jadi tambah ilmu. Ternyata banyak masalah yang terjadi dengan jaringan internet. Kalau penyebabnya cuma masalah lambatnya jaringan, dipercepat lagi kan bisa? investasi sekali saja. Daripada membuang prinsip no rm tunggal. Kita kan punya uang banyak, tinggal minta saja pada koruptor-koruptor di lembaga pemerintah untuk puasa korupsi 1 minggu saja, tidap perlu markup, spj palsu, dll. Pasti bisa lah!! Mau??
Setelah membaca tulisan Panjenengan, Saya jadi tambah ilmu. Ternyata banyak masalah yang terjadi dengan jaringan internet. Kalau penyebabnya cuma masalah lambatnya jaringan, dipercepat lagi kan bisa? investasi sekali saja. Daripada membuang prinsip no rm tunggal. Kita kan punya uang banyak, tinggal minta saja pada koruptor-koruptor di lembaga pemerintah untuk puasa korupsi 1 minggu saja (nggak perlu selamanya, kan itu gaya hidup), tidak perlu markup, spj palsu, dll. Pasti bisa lah!! Mau buktinya??
bicara aplikasi untuk puskemas, yang lebih penting pencatatan pasien cepat. baru kemudian di integrasikan dengan puskesmas pembantu dan pustu. itu bisa mengurangi jumlah petugas. dinas tidak perlu data mentah. mereka yang penting tau jumlahnya berapa titik. coba deh software basis web di http://healthsoftly.wordpress.com
Kalo menurut saya yang harus diperhatkan adalah ketersediaan aplikasi yg accessible dan reliable yg dapat disesuaikan dengan kondisi yg ada. Ga penting mau pake web based maupun desktop based, ga penting mau pake platform bahasa pemrogaman apapun, yang terpenting adalah setiap sumber data dapat berkomunikasi antara satu dengan yg lain dengan tata cara yg standar.
Semua alternatif harus dihitung dengan cermat plus minusnya, gimana TCOnya … gimana ROI nya … bla bla …
Menurut saya aplikasi yg “bagus” adalah aplikasi yang benar-benar “dipakai” dan “dimanfaatkan” oleh semua stakeholder …
Salam Kenal ..
Serba salah ya jadinya .. tapi mesti arahnya nanti kesana .. lihat saja makin lama makin banyak akses ke internet yg dipermudah .. mungkin nanti suatu saat hambatan-hambatan di atas sudah bisa diatasi.
Kalo cuma nomor index probolinggo udah bisa .. meskipun nda jalan semuanya .. pake pengkodean XX-000000 dimana XX adalah alfabet yg mewakili desa. Karena di Probolinggo cuma ada 300 desa dan 24 kecamatan jadi masih bisa masuk. Ngga tahu lagi kalo ada yang 27 kec atau desanya lebih dari 676. Hehehe..
Pasti sangat memudahkan kalo dia jalan kemanapun datanya udah ada pada SIMPUS .. tapi mesti dipertimbangkan kerahasiaan. Mungkin data medis terkait dengan index. sedangkan data personal (nama, alamat, keluarga dll) hanya ada di komputer pemberi pelayanan.
Jadi kalo dari PKM A sdh bawa data medis di PKM B tetap harus dimasukkan lagi data personalnya. Bisa ngga ya menjamin kerahasiaan?
Wah kepanjangan nih ..
Thx ya bagi wacananya ..
Rupanya… disini ngumpulnya peSIMPUS.
Kayaknya memang dunia tempatnya yang baik bersanding dengan yang jelek (offff…. maaf puasa).
kalau semua sama… ya.. itu satu-satunya, UNIKlah dia.
Enakan berpasangan… dimana ada gula… disitu semut mengintip.
Salam
[...] Sumber : http://tantos.web.id/blogs/alternatif-arsitektur-puskesmas-online [...]