October15
Sebelumnya mohon maaf kepada segenap keluarga besar Nahdhatul Ulama (NU), dan Muhammadiyah.
Saya tidak bermaksud menyindir atau memihak salah satu diantaranya ataupun merendahkan (menghina) keduanya.
Disini saya menggunakan NU dan Muhammadiyah hanya sebagai contoh, karena keduanya cukup besar dan berpengaruh di masyarakat.
Tulisan ini saya buat dengan segala keterbatasan pengetahuan dengan melihat kenyataan yang ada, baik dari teman, saudara, maupun melihat/ mengalami sendiri.
Kedua organisasi Islam ini berkembang sendiri-sendiri dengan ciri khas masing-masing. Dalam mengembangkan Ilmu pengetahuan, NU memiliki Pondok Pesantren sedangkan Muhammadiyah punya sekolah berjenjang. Meskipun kedua-duanya juga memiliki yang lain.
Muhammadiyah didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan. Menurut informasi yang saya dapatkan, KH. Ahmad Dahlan pernah menimba ilmu pesantren di daerah Minomartani (NU), Jogjakarta.
Konon, dalam perkembangan sejarah Indonesia, datang seorang Belanda yang telah lama menimba ilmu Islam di Arab, Snouk Hurgronye, namun dia bukan orang Islam. Berkat kejeliannya mempelajari Islam dan kebudayaan Indonesia, dia berhasil menghasut masyarakat waktu itu untuk membenci satu sama lain (NU dan Muhammadiyah).
Dan kebencian itu masih mengakar hingga sekarang. Terbukti waktu saya sowan ke seorang kyai (NU) di daerah klaten, Beliau mengejek Amien Rais dengan menyebutnya Amien Rase. Di daerah saya ada istilah “MuhammadiNU”, istilah yang ditujukan kepada seseorang yang aktif di NU dan Muhammadiyah (ikut kedua-duanya). Ketika saya SMA, guru agama saya bercerita tentang pengalamannya memimpin sholat tarawih di sebuah kampung yang ada kyai NU-nya, karena sang guru menyamarkan pembacaan Basmalah pada surat Al-Fatihah, sang kyai menghentikan jamaah untuk mengikuti sang imam (guru), kemudian sang guru mengejek kyai itu di depan para siswa “Bola bali nek wong NU!”.
Ada lagi yang baru, ada 2 teman saya yang mendaftar kerja sebagai perekam-medis di PKU Muhammadiyah Bantul, 1 diterima, dan 1 ditolak. Tes wawancara yang dilakukan ternyata hanya untuk membedakan apakah seseorang calon pegawai itu Muhammadiyah atau bukan. Teman yang diterima tidak menunjukkan kalau dia ikut organisasi lain, sedang yang tidak diterima mengatakan kalau dia ikut oraganisasi lain/ Hizbut Tahrir (waktu wawancara), padahal jawaban yang diberikan teman yang tidak diterima selalu jawaban serius, sedang teman yang diterima jawabannya memang benar, namun ngaco. Otomatis teman yang tidak diterima agak marah, lha dibeda-bedakan, wong sama-sama Islam, sama-sama warga Indonesia kok diskriminasi, “bola-bali wong Muhammadiyah” katanya.
Dari pengalaman tersebut terbesit bayangan, kapan orang Indonesia itu akur. Kalau saya boleh memilih, saya memilih semuanya, tidak hanya NU dan Muhammadiyah, karena didalamnya saya yakin pasti ada Ilmu yang bermanfaat, dengan mengesampingkan pembeda-pembeda yang ada, meskipun pembeda itu bersifat prinsipil dalam tubuh organisasi itu. Kalau tidak boleh semuanya, ya tidak memilih, hehehe…
Tidak memilih biasanya disebut moderat. Moderat dari apa? wong sama-sama Islam kok moderat. Moderat dari apa? wong sama-sama makhluk Tuhan kok moderat.
Mungkin akur memang susah, dalam tubuh masing-masing organisasi itu saja tidak akur. NU pecah menjadi 2 di Partai Kebangkitan Bangsanya. Orang-orang Muhammadiyah banyak yang lari ke Partai Kebangkitan Sejahtera.
*pengurus organisasine mesti memble…,hehehe…
E..alah…, mbok yo sek akur pak…