Cak NunHahaha, akhirnya, saya bisa datang di Maiyah Padhang Mbulan September 2009, setelah absen selama berbulan-bulan.

–Sebuah Pengantar
Bahwa Maiyah kali ini juga dihadiri wong ilang, yaitu orang Madiun yang mengadu nasib di Jakarta, kemudian dalam rangka mudik, dia mampir ke jogja untuk menuju semarang menjemput adiknya lalu bareng-bareng menuju Kota kelahiran (adoh tenan meh bali ae). Dia juga biasa datang di Maiyah Kenduri Cinta, alhamdulillah de’e wis rodo mambu menuju tobat (lagi mambu tur rodo lho Yud!).
Jam 5 pagi HP saya bunyi ada sms. Saya yang sedang tidak tidur, membiarkan HP bunyi terus, lagi males buka sms, lha wong nyonya e tidur, ndak mungkin sms. Setelah sekitar 20 menit baru tak buka, ternyata wong ilang sms saya, “Aku wis tekan jogja”. Masya Allah Yud!

Karena saya males untuk menjemput ke stasiun Tugu, tak suruh saja dia ngojek menuju Purwomartani, Kalasan. Tapi ternyata dia ndak mau (utekmu deleh ngendi to Yud?), dia lebih memilih tinggal di sebuah Wisma samping gang sempit di daerah Sosrowijayan a.k.a Sarkem, Masya Allah, bulan puasa dab, bulan puasa…

Selama jam 05.00-21.15 saya tidak tahu apa yg terjadi dengannya atau apa yang dia lakukan, jadi tidak saya ceritakan disini, takut membuka aib orang :)

Lalu jam 21.15, dia tak jemput di daerah tersebut, kemudian bareng Dandik & Rifki menuju Kasihan, Bantul. Mangkat Dab!
*sst, ada yang ketinggalan, hanunk bbc super duper alibier ndak jadi ikut, wawawawawa

—ketika Maiyah
Malam itu, Cak Nun mencoba menyadarkan kita pada ilmu tepung.

Cak Nun memulai dengan bahwa sebenarnya pohon, hewan, batu, manusia terbuat dari bahan yang sama, hanya saja komposisinya berbeda.
Wong Ilang dirangkul CN, Subhanallah...
Kembali ke tepung,
Butir beras terdiri dari butiran-butiran tepung yang sangat halus. Tepung-tepung tersebut dengan melalui proses, waktu, dan komposisi tertentu sehingga menjadi butiran beras yang biasa kita lihat sekarang. Setelah beras terbentuk, makhluk bernama manusia kemudian memasaknya lalu setelah masak diberi nama “nasi”. Kalau nasi sudah basi (penyebab basi bisa bermacam-macam, bisa tergantung cara menyimpannya), untuk menjadikannya enak, maka nasi dijemur, lalu ditumbuk sehingga menjadi butiran-butiran tepung lagi, lalu siap dibuat butiran-butiran beras lagi, entah dengan bentuk beras yang baru, komposisi yang baru, inovasi yang baru, terserah.

Jika dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari, maka tepung merupakan bentuk abstrak, teori, prinsip, ilmu. Dan berasnya adalah implementasi atau perwujudan dari ilmu tersebut. Dapat diberikan contoh :
tepung : demokrasi, beras : partai-partai

Intinya adalah kalau sesuatu yang dirasa menyengsarakan, merugikan, tidak baik, maka segeralah kita tepungkan kembali lalu buat kembali beras-beras yang baru dari tepung yang baru tersebut.
*angel nulis jebule, pokoke intine ngunu kui, dan tidak sebatas masalah NKRI lho, sek cedhak-cedhak karo kehidupan kita ae akeh kok*

—sesi Pak Toto Rahardjo dan Sabrang
Pak Toto dan Sabrang menyuguhkan tentang pendidikan yang selama ini kita peroleh merupakan sebuah pendidikan yang sekedar menghafal, mengingat-ingat sesuatu (Reproduksi). Siswa tidak diberikan kesempatan untuk berkreasi (Produksi). Sabrang memberikan contoh sebuah soal pilihan ganda untuk anak SD :

Ibu memasak dengan …
A. Kompor gas
B. Kompor minyak
C. Arang

Lalu ada seorang anak yang bingung, karena Ibunya tidak pernah memasak menggunakan alat atau bahan diatas, tetapi menggunakan sogok geni (opo iki sogok geni aku malah ra tau krungu mas). kemudian anak itu menambahkan sebuah pilihan sogok geni lalu dilingkarinya dan sang guru menyalahkan jawaban anak tersebut.

jadi “Ilmu berasal dari kenyataan”

ndak percaya?
Allah mengajarkan Mbah Nabi Adam, tentang itu bumi, itu matahari, dll. Dan ilmu pengetahuan itu diberikan setelah benda-benda itu ada.

masih ndak percaya?
Allah memberikan hukum tentang khomr a.k.a wedang galak, setelah beberapa kejadian, yaitu ada orang sholat dalam kondisi mabuk, lalu Allah melarang mabuk ketika sholat. Kemudian ada kejadian yang lain sesudahnya (sori saya lupa) dan pada akhirnya Allah mengharamkan wedang galak meskipun hanya sedikit (eling Yud!).

–Ilmu Titen

Selain itu Sabrang juga membahas tentang “Kita baru menggunakan 10% kemampuan otak kita”. 10% itu merupakan ilmu-ilmu dari barat, yang selama ini kita pelajari di sekolah.
Lalu dimanakah yang 90%?
Yang 90% adalah Ilmu Titen. Ilmu tua yang dari dulu hingga sekarang berkembang di Nusantara, terutama Jawa. Ilmu titen mempelajari tentang hubungan sebab-akibat yang terjadi. Tidak tahu sejak kapan ilmu ini lahir, yang jelas Ilmu ini berkembang melalui proses kejadian-kejadian yang terjadi selama bertahun-tahun. Dari ilmu Titen ini lahir ilmu ramal, santet, kebal, terbang, menghilang, dan ilmu-ilmu klenik yang lain.

Silahkan orang membid’ah kan ilmu titen ini, tapi saya yakin ini juga bagian dari Ilmu Pengetahuan yang diberikan oleh Allah swt, dan saya pernah membuktikan sendiri ilmu Titen ini benar-benar terjadi, Wallahu’alam.

—sesi Pak Mustofa
Seperti biasa, Pak Mustofa membacakan sebuah puisi hasil karyanya yang tanpa “kangsenan” dengan Cak Nun, ternyata puisi tersebut berhubungan dengan tema malam itu. Puisi tersebut berjudul “Sepatu Nomor Satu”.
*sepatune cilik banget, ukurane mung 1*

Jam 3 cabut, sahur gudeg di Kadipiro, menuju ke Sarkem, pulang, tidur!

  • Share/Bookmark

Related posts:

  1. Tahun baru, selingkuhan baru…
  2. Ubuntu 8.10 telah dirilis
  3. Kiriman Ubuntu Tlah Tiba
  4. Barang-barang Ketinggalan, sayah ditinggalkan
  5. HP ku kecemplung WC