NU dan Muhammadiyah, bukan sebuah pilihan
Sebelumnya mohon maaf kepada segenap keluarga besar Nahdhatul Ulama (NU), dan Muhammadiyah.
Saya tidak bermaksud menyindir atau memihak salah satu diantaranya ataupun merendahkan (menghina) keduanya.
Disini saya menggunakan NU dan Muhammadiyah hanya sebagai contoh, karena keduanya cukup besar dan berpengaruh di masyarakat.
Tulisan ini saya buat dengan segala keterbatasan pengetahuan dengan melihat kenyataan yang ada, baik dari teman, saudara, maupun melihat/ mengalami sendiri.
Kedua organisasi Islam ini berkembang sendiri-sendiri dengan ciri khas masing-masing. Dalam mengembangkan Ilmu pengetahuan, NU memiliki Pondok Pesantren sedangkan Muhammadiyah punya sekolah berjenjang. Meskipun kedua-duanya juga memiliki yang lain.
Muhammadiyah didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan. Menurut informasi yang saya dapatkan, KH. Ahmad Dahlan pernah menimba ilmu pesantren di daerah Minomartani (NU), Jogjakarta.
Konon, dalam perkembangan sejarah Indonesia, datang seorang Belanda yang telah lama menimba ilmu Islam di Arab, Snouk Hurgronye, namun dia bukan orang Islam. Berkat kejeliannya mempelajari Islam dan kebudayaan Indonesia, dia berhasil menghasut masyarakat waktu itu untuk membenci satu sama lain (NU dan Muhammadiyah).
Dan kebencian itu masih mengakar hingga sekarang. Terbukti waktu saya sowan ke seorang kyai (NU) di daerah klaten, Beliau mengejek Amien Rais dengan menyebutnya Amien Rase. Di daerah saya ada istilah “MuhammadiNU”, istilah yang ditujukan kepada seseorang yang aktif di NU dan Muhammadiyah (ikut kedua-duanya). Ketika saya SMA, guru agama saya bercerita tentang pengalamannya memimpin sholat tarawih di sebuah kampung yang ada kyai NU-nya, karena sang guru menyamarkan pembacaan Basmalah pada surat Al-Fatihah, sang kyai menghentikan jamaah untuk mengikuti sang imam (guru), kemudian sang guru mengejek kyai itu di depan para siswa “Bola bali nek wong NU!”.
Ada lagi yang baru, ada 2 teman saya yang mendaftar kerja sebagai perekam-medis di PKU Muhammadiyah Bantul, 1 diterima, dan 1 ditolak. Tes wawancara yang dilakukan ternyata hanya untuk membedakan apakah seseorang calon pegawai itu Muhammadiyah atau bukan. Teman yang diterima tidak menunjukkan kalau dia ikut organisasi lain, sedang yang tidak diterima mengatakan kalau dia ikut oraganisasi lain/ Hizbut Tahrir (waktu wawancara), padahal jawaban yang diberikan teman yang tidak diterima selalu jawaban serius, sedang teman yang diterima jawabannya memang benar, namun ngaco. Otomatis teman yang tidak diterima agak marah, lha dibeda-bedakan, wong sama-sama Islam, sama-sama warga Indonesia kok diskriminasi, “bola-bali wong Muhammadiyah” katanya.
Dari pengalaman tersebut terbesit bayangan, kapan orang Indonesia itu akur. Kalau saya boleh memilih, saya memilih semuanya, tidak hanya NU dan Muhammadiyah, karena didalamnya saya yakin pasti ada Ilmu yang bermanfaat, dengan mengesampingkan pembeda-pembeda yang ada, meskipun pembeda itu bersifat prinsipil dalam tubuh organisasi itu. Kalau tidak boleh semuanya, ya tidak memilih, hehehe…
Tidak memilih biasanya disebut moderat. Moderat dari apa? wong sama-sama Islam kok moderat. Moderat dari apa? wong sama-sama makhluk Tuhan kok moderat.
Mungkin akur memang susah, dalam tubuh masing-masing organisasi itu saja tidak akur. NU pecah menjadi 2 di Partai Kebangkitan Bangsanya. Orang-orang Muhammadiyah banyak yang lari ke Partai Kebangkitan Sejahtera.
*pengurus organisasine mesti memble…,hehehe…
E..alah…, mbok yo sek akur pak…
Related posts:
aku ra milih ae her
heheheh, sing penting Islam, ra sah embel embel NU, Muhammadiah, utowo embel embel (gedhes) liyane
halah…yang penting shalat, puasa, zakat, dan nek mampu yo kaji…
sesekali ngerokok lah, wakakakaka!!!
hahahha, sek penting rokok tidak haram dab!
memang opini yang berkembang di Masyarakat kayaknya NU dan Muhamadiyah adalah aliran, padahal bukan
perlu diketahui bahwa kedua organisasi itu adalah Ormas dan bukan aliran
karena mungkin salah asuhan dari para tetua kita..
jadilah pemikiran seperti itu…
jadi orang NU dan Muhamadiyah tidak ada yg membedakan sholatnya seperti apa ?
yg tidak boleh adalah orang yg tidak menjalankan sholat itu aja..
yang memperuncing perbedaan diantara NU dan Muhammadiyah adalah orang2nya sendiri. Masing-masing menunjukkan siapa dirinya, dengan kadang-kadang ditambahi bumbu menjelek-jelekkan yang lain.
Bukan masalah aliran atau ormas yang saya bahas disini. Tapi tentang bagaimana menyikapi perbedaan diantara kita.
Apakah Anda mengalaminya? hidup diantara mereka.
assalamualaikum wr wb
Jujur wae, aku kie yo bingung, kenopo ummat bisa berbeda-beda, seakan ada yang benar dan ada yang salah? Lebih parahnya, masing-masing meng-klaim bahwa dirinyalah yang paling benar. Pada intinya, sikapi sajalah dengan bijak. Yakin pada hati kita bahwa amal perbuatan kita semua kembali kepada Allah SWT. Mboh kuwi NU po Muhammadiyah, sing penting yakin dan percaya Allah. Semoga kita diridhoi dan dirahmati Allah SWT. Amin
wassalamualikum wr wb
—- SEJARAH MUHAMMADIYAH —-
Muhammadiyah didirikan di Kampung Kauman Yogyakarta, pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H/18 November 1912 oleh seorang yang bernama Muhammad Darwis, kemudian dikenal dengan K.H. Ahmad Dahlan.
Beliau adalah pegawai kesultanan Kraton Yogyakarta sebagai seorang Khatib dan sebagai pedagang. Melihat keadaan ummat Islam pada waktu itu dalam keadaan jumud, beku dan penuh dengan amalan-amalan yang bersifat mistik, beliau tergerak hatinya untuk mengajak mereka kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya berdasarkan Al-Qur’an dan Hadist. Oleh karena itu beliau memberikan pengertian keagamaan di rumahnya di tengah kesibukannya sebagai Khatib dan pedagang.
Mula-mula ajaran ini ditolak, namun berkat ketekunan dan kesabarannya, akhirnya mendapat sambutan dari keluarga dan teman dekatnya. Profesinya sebagai pedagang sangat mendukung ajakan beliau, sehingga dalam waktu singkat ajakannya menyebar ke luar kampung Kauman bahkan sampai ke luar daerah dan ke luar Pulau Jawa. Untuk mengorganisasi kegiatan tersebut maka didirikan persyarikatan Muhammadiyah. Dan kini Muhammadiyah telah ada di seluruh pelosok tanah air.
Di samping memberikan pelajaran/pengetahuannya kepada laki-laki, beliau juga memberi pelajaran kepada kaum ibu muda dalam forum pengajian yang disebut “Sidratul Muntaha”. Pada siang hari pelajaran untuk anak-anak laki-laki dan perempuan. Pada malam hari untuk anak-anak yang telah dewasa.
Di samping memberikan kegiatan kepada laki-laki, pengajian kepada ibu-ibu dan anak-anak, beliau juga mendirikan sekolah-sekolah. Tahun 1913 sampai tahun 1918 beliau telah mendirikan sekolah dasar sejumlah 5 buah, tahun 1919 mendirikan Hooge School Muhammadiyah ialah sekolah lanjutan. Tahun 1921 diganti namanya menjadi Kweek School Muhammadiyah, tahun 1923, dipecah menjadi dua, laki-laki sendiri perempuan sendiri, dan akhirnya pada tahun 1930 namanya diubah menjadi Mu`allimin dan Mu`allimat.
NU dan Muhammadiyah itu khan “ISLAM” toh!!! jd yg penting satu tujuan yaitu yg disembah GUSTI ALLAH SWT dan Nabinya Rasullullah Nabi besar kita Nabi Muhammad SAW gak usah rumit, Rukun Islam aja kita jalani, SELESAI….!!!
Sebelum memutuskan untuk memilih atau tidak memilih seharusnya mempelajari dulu apa yang akan dipilih. Jadi kalau sejak awal sudah mengetahui keterbatasan diri ya jangan memposting tulisan dengan judul yang seakan-akan memvonis bahwa NU or M bukan sebuah pilihan karena tulisan itu menjadi tidak punya arti.
entah kenapa saya ga suka banget akan hal ini.. perbedaan ini sudah ngehancurin banyak banget hubungan teman saya dengan teman lainnya. bahkan dengan tunangannya, hanya karena persepsi ada ketidak setujuan, tidak direstui, timbul perpecahan, konflik..
kenapa berbeda itu masalah? kita lahir juga beda.. sidik jari aja ga sama..
kLo stiap orng berbda2 tu wajar..tp,jgn smpai dr perbda’n tu terjdi konflik…
yg pstix sma2 mnjatuhkn..
Klo sdh bgtu,bgmn islam mw rkun kLo orng d dlmx sja konflik mulu…
Tp,sy pribadi menyayangkn mngapa da organisasi2 nie yg membwt orng islam terpcah2…
sehrusx kn menjadi satu,shingga memperko2h umat islam d Indonesia..
hemm… kirain apa, pada dasarnya mo di nu mo muh sama saja, sing penting ilmu ne ethok, lan sakjane loro2ne apik kabeh, sing salah yo wonge sing yang punya persepsi masing – masing. Harusnya Anda berterima kasih kepada NU yang memberi ilmu ke-islaman secara kultural dan membekas hingga kini, dan harusnya pula Anda berterima kasih kepada Muhammadiyah karena melalui pendidikan, kesehatan dan social activitiesnya hingga kini masih bisa dirasakan…. ha nek persepsimu sak karep wudelmu dewe podo wae koe kuwi rangerti matur nuwun… dan jangan sesekali melihat sebuah permasalahan kecil lalu diperbesarkan, sama aja anda mengadu domba…
Matur Nuhun
ambil yg baeknya aja… jangan terlalu banyak berdebat tentang perbedaannya… cari kesamaannya aja… dan yang paling penting lagi harus kerjakan sariatnya.. jangan sampai debatnya panjang eeeh gak taunya ngerjakannya aja nggaak… mudah2 an kita semua menjadi orang yang selalu d ridhoi oleh ALLAH SWT. perbedaan bukan ladangnya perpecahan melainkan sebagai rahmatan lil ‘alamien
perbedaan di antara umat islam adalah nikmat dan anugrah.
Perbedaan pandangan spt ni udah ada sejak dulu,tadinya saya jg bingung.tp alhmdulilah skarang dah lumayan.obatnya membaca,caritau.kl ga usaha gmn mo dpt hasil?insyaallah,smuanya baik.krn baik NU ato MUH semua menuju ke satu titik,yaitu ridhÖNYA ALLAH SWT
mungkin kalian yg blm mengalami perbedaan itu, akan dgn mudah menganggap itu mudah. Tapi kini, diriku dalam dilema itu. Muhammadiyah sudah begitu lekat dihati sejak aku kecil, kini datang pilihan hati dengan latar belakang yang berbeda. Aku pusing..
ALLAH RABBI tuhan kita s’mua…
MUHAMMAD SAW. nabi kita..
jika kita merasa pngikutnya,patuhilah & jalankan segala perintahnya(yg wajib & sunahnya).
“SUNNAH” memang tidak berdosa bila kita tinggalkan,tapi jangan mengaku-ngaku pengikut nabi muhmmad saw.jika tidak melaksanakannya,karna rasulullah bersabda hendaklah kalian melaksanakan apa yg pernah aku laksanakan(mengikuti cara ibadahnya).
aku dilema,pusing benar dg kenyataan ini…
orang tuaku tokoh nu yg di ayomi masyarakat,aku pun bgtu dkt dg nu…
tp kini,laki2 yg aku yakini sbg calon imamku dtang dr organisasi yg berbeda…
sekalipun restu sudah ada,tp bgmna jika aku harus memilih..pemahan dr calon suami atau pendidikan yang selama ini orang tuaku tanamkan…
ya alloh…mana yang harus aku pilih?
sungguh sebenarnya aku sngat menghargai perbedaan ini..
aku bingung..
Sebenarnya, tidak usah repot masalah perbedaan yang tidak terlalu jauh saya rasa, yang beda itu seperti Lia Iden, Ahmaddiyah, dan baru-baru ini yang ajarannya yang terlalu jauh membelukan dari syarit Islam sebenarnya. Kalu masih berpegang pada Al-Qu”an dan hadist masih bagus, yang penting Shalat dan Inflimentasinya bagaimana orang islaminya itu dalam kehidupan sehari-harinya. Menurut saya He he …….
duwe tonggo kyai muhammadiyah tapi sombongnya minta ampun…rokonya jalan terus walau nek khotbah kon umate ojo ngrokok, kayak ilmunya sama dengan imam syafi’i padahal belum sak upilnya. punya tonggo lagi kyai nu anak-anaknya nggak diopeni rak tau diadusi rak tau diganti klambine misake…jan loro-lorone kyai ora bis digawe conto kabeh…golek kyai islam wae lah
Lebih baik ambil yang baiknya aja,yang jelek jangan ditiru dan gak usah di jelek2in.Di dalam organisasi manapun pasti ada oknumnya.Jangan hanya karena segelintir oknum terus kita menilai kalo organisasi itu jelek.Sesuatu yang menjadi pertentangan antara dua organisasi itu selama itu bukan sesuatu yang wajib lebih baik di tinggalkan,dari pada bingung2.Semua kembali pada kita masing2.
INGAT Islam akan terbagi menjadi 70 golongan (aliran) pada hari akhir,
ISLAM HIDUP DONG….
MASA CUMA PERBEDAAN GINI DOANG JADI MEMBLI…..
AYO…..
kalo mnrtku persepsi q c, yg membuat perbedaan muhammadiyah dan nu itu hny karena segelintir orang dari setiap aliran yang ingin saling menonjolkan diri . Selama 2 aliran itu masih wajar/sesuai syariat islam , kt tdk perlu memperdebtkan ny ..
_visit my blog ya_
yang penting pelajari saja perbedaannya dan mana yg lebih kamu sukai
Wong podo-podo Islam wae, ra usah gegeran wis. Islam iku seduluran, NU – Muhammadiyah, sing penting ra koyok Ahmadiyah.
“Gitu aja koq repot… !?”
itu smua g’ perlu dperdebtkan,yg pentig g’ melenceng dr ajaran agama islam,ok
saya orang NU
bila ada yang bertanya pada saya
kamu NU atau Muhammadiyah
dengan tegas saya jawab :
Ya saya NU
yang alqur”an dan hadits adalah dasar utama yang dipakai umat islam diseluruh dunia allahu akbar
islam tetap satu . . . rapatkan barisan islam dimuka bumi ini allahu akbar
Muhamadiyah dalam arti katanya adalah penganut atau pengikut Nabi Muhamad SAW.
Nahdatul Ulama dlm arti katanya adlh kebangkitan para Ulama..
menurut q, disiapapun yg mrngaku ISLAM jika ditanya “apakah anda Muhamadiyah?” jawaban harus “IYA” tapi kalo organisasinya, ya kembali kr privacy masing2… NU ato Muhamadiyah smuanya hebat n dhasyat.. kitanya yg harusnya nanya diri kita sndiri.. hebat belum IBADAH kita…? terutama SHOLAT FARDUNYA tu…
nu dan mm kduanya baik cman nu tu mengakomodi budaya lokal bisa diagamain tp lo mm agama wahyu yg turun dari Allah,ra ditambah yo ra dikurangi
Sesungguhnya fanatikisme membawa kebodohan, susah menerima pendapat orang. saya sekolah dan kuliah dijogjakarta yang kebanyakan masjidnya muhamadyah dan kini bekerja dibanjarmasin yang hampir 80% masjidnya NU, dan tak ada masalah tuch,Muhamadyah & NU masing masing ada titik yg tak pas buat saya, ikuti yang cocok buat kamu dan yang ragu tinggalkan. Carilah kesempatan berdoa secara pribadi sebab kebutuhan doa tiap orang berbeda, lalu ikuti doa bersama cara Nu. bereskan. rasah mumet
indahnya islam itu
islam tidak membera tkan, yang penting ikhlas dan tidak menyimpang dari ajaran nabi muhammad. .
jangan sampai salah paham karena perbedaan, perbedaan yang membuat kehidupan ini lebih berwarna. .
semoga amal kita diterima oleh Allah SWT